Minggu, 04 September 2011

Persela Lamongan ( Laskar Joko Tingkir )


Berdiri: 1967
Alamat: Jl. Lamongrejo No. 1 Indonesia
Telepon: +62 (0) 322 322 448
Faksimile: +62 (0) 322 317 273
Laman Resmi: http://www.persela.info
Ketua: H. Masfuk, S. H.
Direktur: Drs. H. Agus Suyanto, MM
Stadion: Surajaya
Sejarah Singkat
Persatuan Sepakbola Lamongan atau lebih dikenal dengan sebutan Persela Lamongan adalah sebuah klub profesional yang berkedudukan di Kota Lamongan, Jawa Timur. Tim berjuluk Laskar Joko Tingkir saat ini adalah salah satu kontestan Superliga 2009/10, kompetisi sepakbola paling bergengsi di tanah air.  

Meski telah berdiri sejak 18 April 1967, Persela baru mulai menunjukkan eksistensinya di pentas sepakbola nasional setelah kompetisi memasuki era profesional. Itu pun setelah berjalan sembilan tahun, atau tepatnya pada musim 2003 silam, ketika mereka sukses promosi ke divisi utama, level tertinggi kompetisi sepakbola di tanah air kala itu. 

Sebelumnya, tim ini hanya berkutat di level bawah, yakni divisi II dan divisi I. Namun semuanya berubah begitu sukses promosi ke divisi utama lewat partai playoff di Stadion Manahan, Solo, pada penghujung 2003. Sejak saat itu, Pesela terus unjuk kemampuan hingga akhirnya menembus Superliga, kasta tertinggi kompetisi sepakbola nasional yang baru pertama kali digulirkan musim ini.

Catatan Prestasi :
Liga Indonesia
1994/95: Divisi II
1995/96: Divisi II
1996/97: Divisi II  
1997/98: Kompetisi Terhenti
1998/99: Divisi II  
1999/00: Divisi II
2001: Divisi II (Promosi ke Divisi I)
2002: Peringkat ke-3 Grup 2 Divisi I
2003: Promosi ke Divisi Utama  
2004: Peringkat ke-12
2005: Peringkat ke-8 Wilayah Timur
2006: Peringkat ke-6 Wilayah Timur  
2007: Peringkat ke-6 Wilayah Barat (promosi Superliga)

Superliga Indonesia
2008/09: Peringkat ke-6
2009/10: Peringkat ke-14

Piala Indonesia
2005: Putaran 1
2006: Putaran 2
2007: Putaran 1
2008/09: Putaran 2
2009/10: 16 Besar

Persija Jakarta ( The Jack )



Pada zaman Hindia Belanda, nama awal Persija adalah VIJ (Voetbalbond Indonesische Jacatra). Pasca-Republik Indonesia kembali ke bentuk negara kesatuan, VIJ berganti nama menjadi Persija (Persatuan sepak bola Indonesia Jakarta). Pada saat itu, NIVU (Nederlandsch Indisch Voetbal Unie) sebagai organisasi tandingan PSSI masih ada. Di sisi lain, VBO (Voetbalbond Batavia en Omstreken) sebagai bond (perserikatan) tandingan Persija juga masih ada.

Terlepas dari takdir atau bukan, seiring dengan berdaulatnya negara Indonesia, NIVU mau tidak mau harus bubar. Mungkin juga karena secara sosial politik sudah tidak kondusif (mendukung). Suasana tersebut akhirnya merembet ke anggotanya, antara lain VBO. Pada pertengahan tahun 1951, VBO mengadakan pertemuan untuk membubarkan diri (likuidasi) dan menganjurkan dirinya untuk bergabung dengan Persija.

Dalam perkembangannya, VBO bergabung ke Persija. Dalam turnamen segitiga persahabatan, gabungan pemain bangsa Indonesia yang tergabung dalam Persija "baru" itu berhadapan dengan Belanda dan Tionghoa. Inilah hasilnya: Persija (Indonesia) vs Belanda 3-3 (29 Juni 1951), Belanda vs Tionghoa 4-3 (30 Juni 1951), dan Persija (Indonesia) vs Tionghoa 3-2 (1 Juli 1951). Semua pertandingan berlangsung di lapangan BVC Merdeka Selatan, Jakarta.

Prestasi

Nasional
Perserikatan
Tahun 1931, Juara Perserikatan, sebagai VIJ Jakarta (1)
Tahun 1933, Juara Perserikatan, sebagai VIJ Jakarta (2)
Tahun 1934, Juara Perserikatan, sebagai VIJ Jakarta (3)
Tahun 1938, Juara Perserikatan, sebagai VIJ Jakarta (4)
Tahun 1964, Juara Perserikatan (5)
Tahun 1973, Juara Perserikatan (6)
Tahun 1975, Juara Perserikatan, bersama dengan PSMS Medan (7)
Tahun 1977, Juara Perserikatan (8)
Tahun 1979, Juara Perserikatan (9)
Tahun 1990, Peringkat Ke-10 Perserikatan
Liga Indonesia

Tahun 1994, Peringkat Ke-18 Divisi Utama Wilayah Barat
Tahun 1995, Peringkat Ke-13 Divisi Utama Wilayah Barat
Tahun 1996, Peringkat 11 Wilayah Barat
Tahun 1998, Semifinalis
Tahun 1999, Semifinalis
Tahun 2001, Juara Liga Indonesia
Tahun 2002, 8 Besar Liga Bank Mandiri
Tahun 2003, Peringkat 8 Liga Bank Mandiri
Tahun 2004, Peringkat 3 Liga Bank Mandiri
Tahun 2005, Runner-Up Liga Indonesia
Tahun 2006, Liga Indonesia 8 Besar
Liga Super Indonesia

Tahun 2010, Peringkat 5 Liga Super Indonesia
Tahun 2010, Klasemen Sementara (tanggal 22 Oktober 2010) ke 2
Piala Indonesia

Tahun 2005, Runner-Up Copa Indonesia
Tahun 2006, Copa Indonesia Juara 3
Tahun 2007, Copa Indonesia Juara 3
Internasional
Tahun 2000, Juara Piala Sultan Brunei Darussalam

Persib Bandung ( Maung Bandung )


Sebelum bernama Persib, di Kota Bandung berdiri Bandoeng Inlandsche Voetball Bond ( BIVB ) pada sekitar tahun 1923. BIVB ini merupakan salah satu organisasi perjuangan kaum nasionalis. Tercatat sebagai Ketua Umum BIVB adalah Mr. Syamsudin yang kemudian diteruskan oleh putra pejuang wanita Dewi Sartika, yakni R. Atot.
Atot ini pulalah yang tercatat sebagai Komisaris daerah Jawa Barat yang pertama. BIVB memanfaatkan lapangan Tegallega didepan tribun pacuan kuda. Tim BIVB ini beberapa kali mengadakan pertandingan diluar kota seperti Yogyakarta dan Jatinegara Jakarta.
BIVB kemudian menghilang dan muncul dua perkumpulan lain yang juga diwarnai nasionalisme Indonesia yakni Persatuan Sepak Bola Indonesia Bandung ( PSIB ) dan National Voetball Bond ( NVB ).
Pada tanggal 14 Maret 1933, kedua perkumpulan itu sepakat melakukan fusi dan lahirlah perkumpulan yang bernama Persib yang kemudian memilih Anwar St. Pamoentjak sebagai Ketua Umum. Klub- klub yang bergabung kedalam Persib adalah SIAP, Soenda, Singgalang, Diana,Matahari, OVU, RAN, HBOM, JOP, MALTA, dan Merapi.
Di Bandung pun saat itu pun sudah berdiri perkumpulan sepak bola yang dimotori oleh orang- orang Belanda yakni Voetbal Bond Bandung & Omstreken ( VBBO). Perkumpulan ini kerap memandang rendah Persib. Seolah- olah Persib merupakan perkumpulan “ kelas dua “. VBBO sering mengejek Persib. Maklumlah pertandingan- pertandingan yang dilangsungkan oleh Persib dilakukan dipinggiran Bandung—ketika itu—seperti Tegallega dan Ciroyom.
Masyarakat pun ketika itu lebih suka menyaksikan pertandingan yang digelar VBBO. Lokasi pertandingan memang didalam Kota Bandung dan tentu dianggap lebih bergengsi, yaitu dua lapangan dipusat kota, UNI dan SIDOLIG.
Persib memenangkan “ perang dingin “ dan menjadi perkumpulan sepakbola satu- satunya bagi masyarakat Bandung dan sekitarnya.Klub- klub yang tadinya bernaung dibawah VBBO seperti UNU dan SIDOLIG pun bergabung dengan Persib. Bahkan VBBO kemudian menyerahkan pula lapangan yang biasa mereka pergunakan untuk bertanding yakni Lapangan UNI, Lapangan SIDOLIG ( kini Stadion Persib ), dan Lapangan SPARTA ( kini Stadion Siliwangi ). Situasi ini tentu saja mengukuhkan eksistensi Persib di Bandung.
Ketika Indonesia jatuh ke tangan Jepang. Kegiatan persepakbolaan yang dinaungi organisasi lam dihentikan dan organisasinya dibredel. Hal ini tidak hanya terjadi di Bandung melainkan juga diseluruh tanah air. Dengan sendirinya Persib mengalami masa vakum. Apalagi Pemerintah Kolonial Jepang pun mendirikan perkumpulan baru yang menaungi kegiatan olahraga ketika itu yakni Rengo Tai Iku Kai.
Tapi sebagai organisasi bernapaskan perjuangan, Persib tidak takluk begitu saja pada keinginan Jepang. Memang nama Persib secara resmi berganti dengan nama yang berbahasa Jepang tadi. Tapi semangat juang, tujuan dan misi Persib sebagai sarana perjuangan tidak berubah sedikitpun.
Pada masa Revolusi Fisik, setelah Indonesia merdeka, Persib kembali menunjukkan eksistensinya. Situasi dan kondisi saat itu memaksa Persib untuk tidak hanya eksis di Bandung. Melainkan tersebar diberbagai kota, sehingga ada Persib di Tasikmalaya, Persib di Sumedang, dan Persib di Yogyakarta.
Pada masa itu prajurit- prajurit Siliwangi hijrah ke ibukota perjuangan Yogyakarta. Baru tahun 1948 Persib kembali berdiri di Bandung, kota kelahiran yang kemudian membesarkannya.
Rongrongan Belanda kembali datang, VBBO diupayakan hidup lagi oleh Belanda ( NICA ) meski dengan nama yang berbahasa Indonesia Persib sebagai bagian dari kekuatan perjuangan nasional tentu saja dengan sekuat tenaga berusaha menggagalkan upaya tersebut. Pada masa pendudukan NICA tersebut, Persib didirikan kembali atas usaha antara lain, dokter Musa, Munadi, H. Alexa, Rd. Sugeng dengan Ketua Munadi.
Perjuangan Persib rupanya berhasil, sehingga di Bandung hanya ada satu perkumpulan sepak bola yakni Persib yang dilandasi semangat nasionalisme. Untuk kepentingan pengelolaan organisasi, decade 1950- an ini pun mencatat kejadian penting. Pada periode 1953- 1957 itulah Persib mengakhiri masa pindah- pindah secretariat. Walikota Bandung saat itu R. Enoch, membangunkan Sekretariat Persib di Cilentah.
Awal Persib memiliki gedung yang kini berada di Jalan Gurame, adalah upaya R. Soendoro, seorang overste replubiken yang baru keluar dari LP Kebonwaru pada tahun 1949. Pada waktu itu, melalui kepengurusan yang dipimpinnya, Soendoro menghadap kepada R. Enoch yang kebetulan kawan baiknya. Dari hasil pembicaraan, Walikota mendukung dan memberikan sebidang tanah di Jalan Gurame sekarang ini.
Pada saat itu, karena kondisi keuangan yang memprihatinkan, Persib tidak memiliki dana untuk membangun gedung, Soendoro kembali menemui Walikota dan menyatakan, “ Taneuh puguh deui, tapi rapat ditiungan ku langit biru,” kata Soendoro.
Akhirnya Enoch juga membantu membangun gedung yang kemudian mengalami dua kali renovasi. Kiprah Soendoro sendiri didunia sepak bola diteruskan putranya, antara lain, Soenarto, Soenaryono, Soenarhadi, Risnandar, dan Giantoro serta cucunya Hari Susanto.
Dalam menjalankan roda organisasi beberapa nama yang juga berperan dalam berputarnya roda organisasi Persib adalah Mang Andun dan Mang Andi. Kedua kakak beradik ini adalah orang lapangan Persib. Tugas keduanya, sekarang ini dilanjutkan oleh putra dan menantunya, Endang dan Ayi sejak 90-an. Selain juga staf administrasi Turahman.
Renovasi pertama dilakukan pada kepemimpinan Kol. CPM Adella ( 1953- 1963 ). Kini sekretariat Persib di Jalan Gurame itu sudah cukup representatif, apalagi setelah Ketua Umum H. Wahyu Hamijaya ( 1994- 1998 ) merenovasi gedung tersebut sehingga menjadi kantor yang memadai untuk mewadahi berbagai kegiatan kesekretariatan Persib.
Kemampuan Persib menjaga nilai- nilai dan tradisinya serta menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman tentu tidak lepas dari figur Ketua Umum bukan hanya figur yang berkemampuan mengelola organisasi dalam artian agar organisasi itu terus hidup, melainkan juga figur yang mampu menggali potensi dan mengakomodasikan kekuatan yang ada, sehingga kiprah Persib dalam kancah sepakbola nasional terus berlangsung lewat berbagai karya Persib.

Sejarah Persebaya ( Bonek - Bajul Ijo )




Berdiri: 1927

Alamat: Jl. Karanggayam No. 1 Indonesia

Telpon: +62 (0) 31 503 2250

Ketua: Saleh Ismail Mukadar (Ketua Umum)

Stadion: Gelora 10 November, Tambaksari
Sejarah
Posisi akhir musim 2008/09: Peringkat 4 Divisi Utama
Nama Stadion: Stadion Gelora 10 November Tambaksari (Kapasitas 30.000)
Tanggal Berdiri: 18 April 1927
Julukan: Bajul Ijo, Green Force
Kelompok Suporter: Bonek Mania

Sejarah Singkat:
Persebaya didirikan pada 18 Juni 1927 dengan nama Soerabhaiasche Indonesische Voetbal Bond [SIVB]. Tim kota Pahlawan ini juga turut berperan dalam pendirian PSSI. Pada tahun 1943 SIVB berganti nama menjadi Persibaja [Persatuan Sepakbola Indonesia Soerabaja].

Tahun 1960, nama Persibaja diubah menjadi Persebaya [Persatuan Sepakbola Surabaya], dan menjadi salah satu raksasa bersama Persib dan Persija. Prestasi gemilang terus terjaga ketika PSSI menyatukan klub Perserikatan dan Galatama dalam kompetisi bertajuk Liga Indonesia sejak 1994.

Selain ulah suporternya, Persebaya juga selalu diwarnai kontroversi. Saat menjuarai kompetisi Perserikatan pada tahun 1988, Persebaya pernah memainkan pertandingan yang terkenal dengan istilah ’sepakbola gajah’, karena mengalah kepada Persipura Jayapura 12-0 untuk menyingkirkan saingan mereka PSIS Semarang. Taktik ini membawa hasil, dan Persebaya berhasil menjadi juara.

Pada Liga Indonesia 2002, Persebaya melakukan aksi mogok tanding saat menghadapi PKT Bontang dan diskors pengurangan nilai. Kejadian tersebut menjadi salah satu penyebab terdegradasinya Persebaya ke divisi I.

Tiga tahun kemudian atau tahun 2005, Persebaya menggemparkan publik sepak bola nasional saat mengundurkan diri pada babak delapan besar sehingga memupuskan harapan PSIS dan PSM untuk lolos ke final.

Atas kejadian tersebut Persebaya diskors 16 bulan tidak boleh mengikuti kompetisi Liga Indonesia. Namun, skorsing direvisi menjadi hukuman degradasi ke Divisi I Liga Indonesia.

Persik Kediri ( Macan Putih )

200px Logo Persik Kediri Sejarah Persik Kediri



Berdiri: 1950
Alamat: Jl Diponegoro no 7, Kediri.
Telepon: (0354) 686690
Ketua Klub: HA Maschut
Stadion: Brawijaya Kediri. 

Sejarah Singkat


Persatuan Sepakbola Indonesia Kediri yang lebih populer dengan sebutan Persik Kediri adalah sebuah klub sepakbola profesional tanah air yang berbasis di Kediri, Jawa Timur. Tim berjuluk Macan Putih saat ini adalah salah satu kontestan Superliga 2008/09, kompetisi kasta tertinggi sepakbola nasional.  

Seperti dilansir situs resmi Persik Kediri, tim ini berdiri sejak 1950. Sayang tidak diketahui pasti mengenai tanggal dan bulan pendiriannya. Tercatat sebagai pendiri adalah Bupati Kediri R Muhammad Machin, yang pada saat itu Kediri masih berupa kabupaten dan tidak ada pemisahan wilayah seperti sekarang, kabupaten dan kota. &lt;script type="text/javascript" src="http://ad.doubleclick.net/adj/gna.id/level2;tile=2;sz=160x600;ord=648934?area=2l&amp;pos=2&amp;ord=648934"&gt;&lt;/script&gt;<div><a href="http://ad.doubleclick.net/jump/gna.id/level2;tile=4;sz=160x600;ord=988046673?area=2l&pos=2&tm=1295147438"><img src="http://ad.doubleclick.net/ad/gna.id/level2;tile=4;sz=160x600;ord=988046673?area=2l&pos=2&tm=1295147438"></a></div>

Pendirian klub ini dibantu Kusni dan Liem Giok Djie. Di mana pertama kali yang dilakukan Machin adalah merancang bendera tim yang tersusun dari dua warna berbeda. Bagian atas berwarna merah dan bawahnya hitam dengan tulisan PERSIK di tengah-tengah dua warna berbeda itu, kemudian mendaftakan diri ke PSSI.

Pada dekade 1960 hingga 1990-an, Persik masih belum dikenal di pentas sepakbola nasional. Tim ini bahkan kalah tenar dibandingkan dengan saudara mudanya Persedikab Kabupaten Kediri, yang pada era 1990-an tercatat dua kali mengikuti kompetisi sepakbola profesional tanah air berlabel Liga Indonesia.

Barulah pada saat kepengurusan ditangani Walikota H. A. Maschut pada 1999, Persik menunjukkan perubahan luar biasa. Tim ini bahkan langsung menjelma menjadi "raksasa" sepakbola nasional. Mengawali debutnya di pentas divisi I pada musim 2000/01, setelah tampil sebagai juara divisi II pada musim sebelumnya, Persik terus menggebrak pentas sepakbola nasional dengan prestasi.

Hanya tiga musim meniti kompetisi di level kedua itu, Persik melaju ke divisi utama juga dengan predikat juara divisi I pada musim 2002. Tampil sebagai pendatang baru di pentas "nomor wahid" kompetisi sepakbola nasional, Persik bertekad tidak sekedar numpang lewat. Itu dibuktikan dengan melakukan persiapan yang cukup serius. Baik dari segi materi pemain maupun finansial.  

Usaha keras Persik di bawah komando manajer Iwan Budianto rupanya berhasil, setelah Piala Presiden yang menjadi lambang supermasi tertinggi sepakbola nasional berhasil mereka boyong, di musim pertama tampil di divisi utama. Sejak saat itu Persik langsung menjelma menjadi tim papan atas, karena mampu mengandaskan ambisi tim-tim papan atas yang punya nama besar seperti Persija Jakarta, Persib Bandung, PSM Makassar.

Hebatnya lagi, prestasi itu kembali mereka raih pada musim 2006, setelah menghentikan perlawanan PSIS Semarang 1-0 di partai final yang digelar di Stadion Manahan, Solo. Piala Presiden pun kembali berlabuh di Kota Kediri. Satu prestasi yang terbilang luar biasa bagi tim pendatang baru, dengan sukses menjadi juara sebanyak dua kali hanya dalam kurun waktu empat tahun menembus divisi utama.

Kiprah Di Superliga


Menghadapi Superliga 2008/09, manajemen Persik bertekad mengulang sukses yang pernah diraih di pentas divisi utama sebelumnya. Itu terlihat dengan persiapan yang dilakukan. Di mana tim ini menggelar persiapan lebih awal disaat kontestan lainnya masih bergelut dengan berbagai masalah. 

Diawali dengan merekrut pelatih asal Moldova yang sebelumnya membesut Persib Bandung Arcan Iurie Anatolivicie, Persik menggebrak dengan melakukan trasnfer spektakuler memboyong lima pilar andalan PSMS Medan, yang sebelumnya tampil sebagai runner-up Liga Indonesia. Mereka adalah, Mahyadi Panggabean, Saktiawan Sinaga, Markus Horison, Legimin Raharjo, dan Usep Munandar.

Padahal sebelumnya, mereka telah lebih dahulu merekrut pemain dari Arema Malang dan dua pilar Persija Jakarta Hamka Hamzah dan M Roby. Kekuatan Persik juga ditopang tiga pemain asing berkualitas yakni Christian Gonzales, Ronald Fagundez, dan Danilo Fernando. Pendek kata, Persik berharap bisa menjadi the dream team di Superliga.

Sayang ambisi itu tidak terwujud. Kekuatan skuad Persik yang dimotori mayoritas pemain nasional plus tiga legiun asing berkualitas tidak juga menakutkan bagi kontestan Superliga lainnya. Di luar dugaan mereka bahkan dipermalukan Persijap Jepara, tim yang selama masa persiapan tidak seheboh Persik Kediri, di laga awal Superliga. 

Semakin parah setelah krisis finansial malanda tim ini, akibat beban biaya yang cukup besar untuk membayar pemainnya yang mayoritas bintang dengan harga selangit. Apalagi kucuran dana APBD Kota Kediri yang selama ini menjadi tumpuan tidak semulus yang diharapkan. Buntutnya, manajemen menyatakan untuk menjual sejumlah pemain bintangnya di putaran kedua. 

Namun belakangan keputusan itu diubah dan diganti dengan pemotongan gaji dari nilai kontrak hingga 50 persen. Sejumlah pilar Persik pun gerah dan menyatakan ingin hengkang, seiring dengan penawaran yang mereka terima dari sejumlah klub kontestan Superliga lainnya. Sebut saja Christian Gonzales yang secara resmi sudah dipinang Persib Bandung, Danilo Fernando dikabarkan akan hengkang ke Deltras, serta beberapa mantan pilar PSMS yang bakal kembali ke klub lamanya.

Peluang Juara


Krisis finansial hebat yang membuat sejumlah pilarnya bakal hengkang semakin menyulitkan Persik Kediri memenuhi ambisinya meraih juara Superliga musim ini. Maklum saja, tanpa beberapa pilar itu dipastikan Macan Putih akan menjadi ompong. Apalagi jika harus bersaing dengan tim papan atas lainnya yang lebih siap dalam berebut mahkota juara.   

Sangat tragis memang, tapi demikianlah fakta yang harus dihadapi. Meski tidak ada yang berani menjamin tanpa pemain bintang, Persik tidak bisa berbuat banyak. Namun, dengan kondisi keuangan yang morat marit sudah pasti bakal berimbas pada prestasi di lapangan. Itu dibuktikan dengan apa yang mereka raih di putaran pertama.

Dari 17 pertandingan yang mereka lakoni, Budi Sudarsono dan kawan-kawan hanya menorehkan 28 poin dan menempati papan tengah. Hasil dari delapan kali menang, empat kali seri, dan lima kali kalah. Tidak begitu buruk memang karena hanya terpaut 11 poin dengan pimpinan klasemen sementara Persipura Jayapura. Tapi jika sejumlah pemain bintangnya hengkang, bisa ditebak apa yang akan dialami tim ini di putaran kedua. 

Prestasi


Liga Indonesia

1994/95: Divisi II
1995/96: Divisi II
1996/97: Divisi II
1997/98: Divisi II (kompetisi dihentikan)
1998/99: Divisi II
1999/00: Juara Divisi II (promosi ke divisi I)
2001: Peringkat ke-3 Grup Tengah Divisi I
2002: Juara Divisi I (promosi ke divisi utama)
2003: Juara Divisi Utama
2004: Peringkat ke-9 Divisi Utama
2005: Babak Delapan Besar Divisi Utama 
2006: Juara Divisi Utama
2007: Babak Delapan Besar Divisi Utama (promosi ke Superliga)

Turnamen Nasional

2003: Juara Piala Gubernur Jawa Timur I
2005: Juara Piala Gubernur Jawa Timur III
2005: Runner-up Piala Emas Bang Yos
2006: Juara Piala Gubernur Jawa Timur IV
2008: Juara Piala Liga Jawa Timur VI

Turnamen Internasional

2004: Semi-final JVC Cup di Vietnam
2004: Peringkat ke-3 Grup G Liga Champions Asia
2006: Peringkat ke-3 Grup E Liga Champions Asia

Inilah Syarat Tampil di Liga Profesional Indonesia




Headline




PSSI telah memberikan sejumlah persyaratan untuk klub-klub yang mendapatkan status profesional dan menjajal kompetisi kasta tertinggi. Apa saja syaratnya?
Pada workshop yang digelar PSSI dan AFC hari Rabu (3/8/2011) di Jakarta, organisasi sepakbola tertinggi tanah air itu akan merombak total kompetisi musim depan, dan membaginya menjadi dua: Profesional dan Amatir.
Antara Profesional dan Amatir akan ditentukan lewat sejumlah persyaratan, diantaranya adalah legal, finansial, infrastruktur, personel dan sporting (pembinaan usia muda, perangkat pertandingan dan yang lain).
Berdasarkan rilis yang dikeluarkan PSSI, Liga Profesional sendiri akan terdiri dari dua kasta, yang ditentukan lewat kemampuan finansial masing-masing klub. Apa saja? Ini dia..
Level 1:
Setiap tim diwajibkan memiliki badan hukum berbentuk perusahaan terbatas (PT) yang bersifat komersial.
Dana deposit untuk partisipasi Rp 5 miliar, dengan budgeting cap (pengeluaran selama satu musim)mencapai Rp 15 miliar. Lalu syarat itu juga mengatur gaji maksimal untuk pemain lokal adalah Rp 500 juta/musim dengan durasi kontrak minimal 3 tahun.
Kuota pemain asing juga berubah yaitu 3 (non Asia) + 1 (Asia), ditambah 1 Marquee player lokal atau asing diperbolehkan bergabung tanpa batasan gaji.
Level 2:
Semua klub yang memilih level 2 juga harus memiliki badan hukum berbentuk perusahaan terbatas (PT) yang bersifat komersial.
Tapi nilai deposit partisipasi hanya Rp 2 miliar, dengan budgeting cap Rp 8 miliar. Lalu gaji pemain lokal maksimum hanya Rp 350 juta/musim dengan kontrak minimum 3 tahun.
Untuk level 2 ini kuota pemain asing juga dikurangkan menjadi 2 (non Asia) + 1 (Asia), tanpa tambahanmarquee player.
Apabila jumlah klub yang memilih level 2 melebihi kuota, maka klub diberi kesempatan untuk menaikan deposit-nya dengan kelipatan Rp 1 miliar. Proses itu akan berhenti ketika kuota level 1 terpenuhi (12 sampai 22 klub).
Anggota Komite Eksekutif yang ditunjuk untuk menangani masalah kompetisi, Sihar Sitorus, juga menjelaskan, mulai klub Liga Super hingga Divisi II, juga dari Liga Primer Indonesia boleh ikut mendaftar.
Ini berarti pula tim-tim yang bersusah payah merangkak dari Divisi III hingga menembus kasta tertinggi Liga Super berakhir sia-sia. Perjuangan mereka tidak diperhitungkan lagi karena kompetisi dimulai lagi dari nol.
Klub yang baru lahir, klub divisi bawah hingga klub raksasa macam Persipura Jayapura menjadi sejajar kastanya dan harus disaring lagi untuk mengisi kasta tertinggi liga Indonesia.[yob]

LPI, Bubar Atau Bergabung Dengan PSSI



Komite Normalisasi belum memberikan keputusan soal keberadaan Liga Primer Indonesia (LPI). Komite yang dibentuk oleh FIFA itu masih harus bertemu pihak terkait.

FIFA membentuk Komite Normalisasi untuk menyelesaikan konlfik di PSSI. Salah satunya mengambil sikap soal keberadaan LPI yang sampai saat ini berada di luar kendali PSSI.

Menurut Ketua Komite Normalisasi, Agum Gumelar, ada dua solusi ditawarkan FIFA terkait kehadiran LPI. Pertama menyerahkan kendali LPI ke tangan PSSI, dan pilihan kedua adalah menghentikannya.

Komite Normalisasi sendiri telah menggelar rapat perdana di Kantor PSSI, Senayan, Jakarta, Rabu, 6 April 2011. Namun dalam rapat ini, Agum beserta tujuh anggotanya belum bisa memutuskan nasib LPI.

"Tidak bisa dua pilihan itu ditentukan sebelum membicarakannya terlebih dahulu dengan pihak terkait. Hal ini agar dapat diperoleh hasil paling bijak, dan meminimalisir dampak negatifnya," kata Agum dalam jumpa pers di kantor PSSI, Senayan, Jakarta, sore tadi.

Rencananya dalam waktu dekat ini, Agum bersama tujuh anggotanya akan mengundang pihak-pihak terkait dengan LPI. Antara lain Badan Liga Indonesia (BLI), dan pihak LPI sendiri, serta elemen sepakbola lainnya.
Sementara itu, mengenai kegiatan kesekretariatan PSSI, Agum berharap masih bisa tetap berjalan dan tidak berhenti begitu saja. Agum juga akan berkomunikasi dengan pengelola SUGBK untuk tidak melakukan penyegelan. "Kegiatan PSSI akan terus berjalan. Sekarang sedang dilakukan validasi peserta kongres sambil menunggu kompetisi selesai," pungkas Agum.


Baca selengkapnya >> LPI, Bubar Atau Bergabung Dengan PSSI | WW-tikus